Ketika teknologi semakin mampu membuat kepalsuan menyerupai kenyataan, manusia dituntut semakin dewasa untuk memeriksa sebelum percaya, berpikir sebelum menyebarkan, dan bertanggung jawab sebelum menggunakan kecanggihan yang dimilikinya.
Di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kemampuan teknologi menciptakan gambar, suara, dan video yang tampak nyata telah berkembang dengan sangat cepat. Kini seseorang dapat dibuat seolah-olah mengucapkan sesuatu yang tidak pernah ia katakan, hadir di tempat yang tidak pernah ia datangi, atau melakukan tindakan yang sama sekali tidak pernah terjadi. Teknologi semacam ini dikenal sebagai deepfake.
Perkembangan tersebut membawa dua wajah sekaligus. Di satu sisi, deepfake membuka peluang bagi pendidikan, industri kreatif, perfilman, komunikasi, dan berbagai bidang lainnya. Di sisi lain, ia menghadirkan persoalan serius menyangkut privasi, keamanan, reputasi, bahkan kepercayaan publik.
Pada titik inilah persoalan deepfake sesungguhnya menjadi lebih luas daripada sekadar persoalan teknologi. Ia menyentuh persoalan yang sangat mendasar: bagaimana manusia memastikan kebenaran ketika sesuatu yang palsu dapat tampil begitu meyakinkan?
Ketika yang Palsu Tampak Nyata
Istilah deepfake berasal dari gabungan kata deep learning dan fake. Teknologi ini memanfaatkan teknik pembelajaran mesin, khususnya jaringan saraf tiruan, untuk menghasilkan atau memanipulasi gambar, video, dan suara sehingga menyerupai kenyataan.
Altuncu, Franqueira dan Li (2024) menjelaskan deepfake sebagai media sintetis yang dihasilkan atau dimanipulasi dengan teknik deep learning. Perkembangan teknologi generatif membuat proses tersebut semakin mudah dilakukan dan hasilnya semakin sulit dibedakan dari konten autentik.
Persoalannya menjadi semakin kompleks karena manusia pada dasarnya cenderung mempercayai apa yang dilihat dan didengarnya. Sebuah video seolah-olah menjadi bukti yang kuat karena kamera dianggap merekam kenyataan. Sebuah rekaman suara dianggap meyakinkan karena terdengar seperti suara orang yang sebenarnya. Padahal, dalam lingkungan digital, kemiripan dengan kenyataan tidak selalu berarti kebenaran.
Di sinilah prinsip yang sangat tua justru kembali menemukan relevansinya. Al-Qur'an mengingatkan orang beriman agar memeriksa suatu berita sebelum mengambil tindakan, sebagaimana pesan Q.S. Al-Hujurat ayat 6 tentang pentingnya tabayyun. Dalam kehidupan digital, prinsip tersebut memperoleh bentuk baru, yaitu: jangan segera percaya hanya karena sebuah informasi terlihat nyata, terdengar meyakinkan, atau dibagikan oleh banyak orang.
Teknologi berubah. Prinsip kehati-hatian dalam menerima informasi tetap relevan.
Teknologi yang Berguna Sekaligus Berisiko
Tidak semua penggunaan deepfake bersifat merugikan. Dalam pendidikan, teknologi ini dapat digunakan untuk menghadirkan simulasi tokoh sejarah, membuat materi pembelajaran lebih interaktif, atau membantu proses pembelajaran bahasa melalui sintesis suara. Industri perfilman juga memanfaatkannya untuk menghasilkan efek visual dan berbagai kebutuhan produksi.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah deepfake boleh digunakan atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: untuk apa teknologi tersebut digunakan, bagaimana cara menggunakannya, dan apa akibatnya bagi orang lain.
Pertanyaan semacam itu membawa kita dari wilayah teknologi menuju wilayah etika.
Sebuah kemampuan teknis tidak dengan sendirinya menjadi tindakan yang baik. Kemampuan membuat sesuatu yang tampak nyata harus berjalan bersama kemampuan mempertimbangkan konsekuensi penggunaannya. Dalam perspektif Islam, teknologi akan tetap berada dalam wilayah tanggung jawab moral manusia. Alat dapat semakin canggih, namun manusia tetap menjadi pihak yang menentukan apakah kecanggihan itu digunakan untuk kemaslahatan atau justru menimbulkan mudharat.
Ketika Identitas Dapat Dicuri
Salah satu ancaman deepfake yang berkembang adalah penipuan berbasis suara dan wajah. Dengan bahan digital yang tersedia di internet, pelaku dapat meniru karakteristik seseorang dan menggunakannya untuk meminta uang, memberikan instruksi palsu, atau membangun komunikasi yang seolah-olah berasal dari orang yang sebenarnya.
Chesney dan Citron (2019) telah mengingatkan bahwa teknologi deepfake berpotensi menimbulkan persoalan serius bagi privasi, demokrasi, keamanan nasional, dan berbagai kepentingan publik lainnya.
Bayangkan seseorang menerima panggilan suara yang terdengar persis seperti suara anaknya. Suara itu meminta sejumlah uang karena sedang mengalami keadaan darurat. Dalam situasi emosional, seseorang mungkin segera percaya dan bertindak sebelum melakukan verifikasi.
Di sinilah persoalan teknologi bertemu dengan persoalan kemanusiaan. Kepalsuan tidak hanya bekerja melalui perangkat digital. Ia dapat memanfaatkan kepercayaan manusia. Karena itu, makin canggih teknologi meniru identitas seseorang, semakin besar pula perlunya budaya verifikasi dan kehati-hatian dalam hubungan sosial.
Bahaya yang Lebih Besar: Rusaknya Kepercayaan
Kerugian akibat deepfake tidak selalu berupa uang. Reputasi seseorang dapat rusak ketika wajah dan suaranya digunakan dalam video palsu. Seseorang dapat dituduh mengatakan sesuatu yang tidak pernah dikatakannya. Bahkan sebuah institusi dapat kehilangan kepercayaan publik karena beredarnya pernyataan palsu yang tampak autentik.
Lebih jauh lagi, deepfake dapat menghasilkan keadaan yang lebih berbahaya, yaitu: ketika masyarakat mulai meragukan semua bukti.
Inilah yang sering disebut sebagai liar's dividend. Ketika masyarakat mengetahui bahwa video dan suara dapat dipalsukan, orang yang benar-benar mengatakan atau melakukan sesuatu pun dapat menyangkalnya dengan mengatakan bahwa bukti tersebut adalah hasil manipulasi AI. Dengan demikian, teknologi pemalsuan tidak hanya menciptakan kebohongan baru. Ia juga dapat membuat kebenaran yang sebenarnya menjadi lebih sulit dipercaya.
Dalam perspektif etika Islam, keadaan semacam ini sangat serius karena kehidupan sosial dibangun di atas kepercayaan, amanah, dan kejujuran. Kebohongan yang terus-menerus beredar bukan hanya dapat merusak orang yang menjadi sasaran, melainkan perlahan juga dapat mengikis kualitas hubungan sosial.
Dari Tabayyun Menuju Tanggung Jawab Digital
Menghadapi deepfake tentu tidak cukup dengan memasang perangkat pendeteksi atau menggunakan aplikasi verifikasi. Masyarakat membutuhkan kebiasaan berpikir yang sehat.
Sebelum mempercayai sebuah video, kita perlu bertanya: dari mana sumbernya? Apakah ada sumber asli? Apakah media kredibel lainnya memberitakan hal yang sama? Apakah konteks videonya lengkap? Apakah terdapat tanda-tanda manipulasi? Lebih penting lagi: apakah informasi itu memang perlu kita sebarkan?
Pertanyaan terakhir ini sering dilupakan. Seseorang mungkin tidak membuat deepfake, tetapi ikut memperbesar dampaknya ketika langsung menyebarkan video palsu kepada orang lain. Dalam ekosistem media sosial, seseorang dapat menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi tanpa pernah mengetahui siapa pembuat awalnya.
Karena itu, tanggung jawab digital bukan hanya persoalan apa yang kita buat, lebih dari itu, adalah juga apa yang kita teruskan kepada orang lain. Prinsip tabayyun dengan demikian tidak berhenti pada aktivitas memeriksa kebenaran. Ia juga membentuk sikap untuk menahan diri ketika kebenaran belum jelas.
Mengapa Kampus Perlu Peduli?
Perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menghadapi persoalan ini karena kampus bukan sekadar tempat mahasiswa mempelajari pengetahuan. Kampus juga merupakan tempat membentuk cara berpikir. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan menggunakan AI, tetapi pada saat yang sama harus mampu mempertanyakan hasil yang diberikan AI. Mereka perlu mengenal teknologi generatif, namun tidak kehilangan kemampuan membedakan fakta, opini, manipulasi, dan rekayasa.
Dalam dunia akademik, kemampuan tersebut bahkan merupakan bagian dari integritas ilmiah. Pengetahuan tidak dibangun dengan menerima setiap informasi yang tersedia, melainkan dengan proses pemeriksaan, pengujian, argumentasi, dan pertanggungjawaban. Karena itu, literasi AI seharusnya berjalan bersama literasi informasi dan pembentukan karakter.
Di sinilah nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan tabayyun memiliki relevansi yang sangat kuat. Nilai tersebut tidak harus ditempatkan sebagai tambahan bagi teknologi modern. Ia justru dapat menjadi kompas moral ketika kemampuan teknologi berkembang lebih cepat daripada kedewasaan manusia dalam menggunakannya.
Lima Kebiasaan Menghadapi Deepfake
Menghadapi deepfake tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan siapa pun.
Pertama, periksa sumber asli. Jangan hanya memperhatikan siapa yang mengirim atau membagikan sebuah video.
Kedua, bandingkan dengan sumber terpercaya. Informasi penting sebaiknya tidak bergantung pada satu video atau satu unggahan.
Ketiga, perhatikan kejanggalan teknis. Gerakan bibir, ekspresi wajah, pencahayaan, suara, atau transisi gambar terkadang memperlihatkan tanda-tanda manipulasi, meskipun tanda tersebut semakin sulit dikenali.
Keempat, gunakan perangkat verifikasi ketika diperlukan. Untuk informasi yang memiliki konsekuensi besar, pemeriksaan tambahan layak dilakukan.
Kelima, tahan diri sebelum membagikan. Jika kebenarannya belum jelas dan penyebarannya dapat merugikan orang lain, menunda beberapa saat jauh lebih bijaksana daripada menjadi bagian dari penyebaran informasi yang salah.
Kebiasaan terakhir mungkin tampak sederhana. Namun dalam masyarakat yang bergerak sangat cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi bentuk kedewasaan digital.
AI Semakin Canggih, Manusia Harus Semakin Dewasa
Deepfake memberi kita sebuah pelajaran yang lebih besar daripada sekadar persoalan teknologi.
Makin mudah mesin menciptakan sesuatu yang tampak nyata, semakin besar tuntutan kepada manusia untuk membangun kemampuan membedakan yang benar dari yang salah. Teknologi dapat membantu manusia melihat lebih banyak, mendengar lebih banyak, dan menciptakan lebih banyak. Namun teknologi tidak secara otomatis membuat manusia lebih bijaksana.
Oleh karena itu, tantangan terbesar era AI bukan hanya bagaimana membuat teknologi semakin pintar, melainkan bagaimana membuat manusia semakin bertanggung jawab dalam menggunakannya.
Bagi perguruan tinggi, tugas tersebut menjadi semakin perlu diperhatikan. Kampus perlu melahirkan manusia yang mampu menguasai teknologi sekaligus memiliki integritas dalam menggunakannya; mampu menghasilkan informasi sekaligus bertanggung jawab atas dampaknya; dan mampu berpikir kritis sekaligus memiliki kesadaran moral.
Sebab, persoalan deepfake tidak berhenti hanya tentang gambar palsu, suara palsu, atau video palsu. Persoalan yang lebih mendasar justru adalah bagaimana manusia mempertahankan kejujuran dan kepercayaan ketika teknologi membuat kepalsuan semakin mudah menyerupai kenyataan.
Di tengah dunia seperti itu, kecanggihan teknologi membutuhkan kedewasaan manusia. Dan kedewasaan itu antara lain tampak dalam kesediaan untuk memeriksa sebelum percaya, berpikir sebelum menyebarkan, serta mempertimbangkan akibat sebelum menggunakan kemampuan yang dimiliki. Segala puji bagi Allah, hanya kepada-Nya kita berlindung.*
Suprapto Estede, penulis dan lektor kepala pada STIEKIA.