LANSIA: Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan
← Kembali ke Artikel Ilmiah
Pengabdian Masyarakat 14 Agustus 2026 · Moch Suberi

LANSIA: Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan

← Kembali ke Artikel Ilmiah

LANSIA: Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan

Pengabdian Masyarakat 14 Agustus 2026 · Ditulis oleh Moch Suberi
LANSIA: Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan

Informasi Penulis

Penulis
Moch Suberi
Tanggal Publikasi
14 Agustus 2026
Kategori
Pengabdian Masyarakat

Menjadi tua adalah kepastian biologis. Lantas, bagaimana cara lansia melewati proses penuaan itu? Lansia juga harus siap menghadapi "aging population" agar tidak menjadi beban dan tetap produktif.

 
Pendahuluan 

Lansia menurut KBBI adalah akronim atau singkatan dari Lanjut Usia, yang merujuk pada tahap masa tua dalam perkembangan individu atau seseorang yang sudah berumur tua.  Berdasarkan acuan umum dan undang-undang terkait kesejahteraan sosial, kategori lansia umumnya disematkan pada individu yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Menjadi tua adalah kepastian biologis yang tidak bisa dihindari oleh siapapun; termasuk penulis yang saat ini berusia 68 tahun. Namun, bagaimana cara kita melewati proses penuaan tersebut sangat bergantung pada perkembangan zaman dan teknologi serta pergeseran budaya . 

Membahas lansia masa lalu, kini, dan masa depan sangat penting karena struktur demografi dunia sedang mengalami pergeseran terbesar dalam sejarah manusia. Memahami transisi ini membantu kita bersiap menghadapi ledakan populasi lanjut usia (aging population) agar tidak menjadi beban, melainkan tetap menjadi produktif dan merupakan aset bangsa. 

Berikut adalah pembahasan perkembangan lansia lintas zaman : 

1.     Lansia Masa Lalu ditinjau dari Pembelajaran dan Fondasi Sosial 

Kebijakan pemerintahan masa lalu di Indonesia menempatkan lansia sebagai subjek pembangunan penting melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. Kebijakan ini membagi lansia menjadi dua kelompok, yaitu lansia potensial (masih mampu bekerja/menghasilkan) dan lansia tidak potensial (bergantung pada bantuan). 

Pemerintah masa lalu menerapkan konsep life-long learning (pembelajaran sepanjang hayat) melalui pendekatan andragogi (pendidikan orang dewasa). Langkah konkretnya meliputi dengan Program Bina Keluarga Lansia (BKL), dikembangkan oleh BKKBN untuk mengedukasi keluarga yang memiliki lansia mengenai pola perawatan fisik, mental, dan emosional. 

Dahulu, lansia dipandang sebagai pusat kebijaksanaan, penjaga tradisi, dan pemimpin keluarga yang sangat dihormati. Sebelum ada buku yang dicetak massal atau internet, lansia adalah satu-satunya "perpustakaan hidup" untuk mempelajari sejarah dengan cerita kisah-kisah orang jujur yang berakhir mujur, hukum adat tentang sopan santun, dan teknik bertahan hidup dengan pola hidup yang sederhana. Mereka menjadi jembatan spiritual dan budaya yang meneruskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Dalam sistem keluarga besar (extended family), kata-kata sesepuh atau kepala keluarga adalah keputusan mutlak yang tidak boleh dibantah. 

Pada masa lalu harapan hidup lansia masih rendah, karena keterbatasan layanan kesehatan, tingginya angka penyakit infeksi, sanitasi yang buruk, serta gizi yang kurang memadai; sehingga jumlah lansia jauh lebih sedikit, belum semaju sekarang. Angka Harapan Hidup (AHH) yang lebih pendek; masalah kesehatan lebih banyak diatasi secara tradisional. Perawatan lansia sepenuhnya bertumpu pada keluarga (informal), bukan pada program negara atau panti jompo. 

2.     Lansia Masa Kini: Tinjauan Masa Transisi Demografi dan Tantangan Nyata 

Penurunan tingkat kematian dan kelahiran akibat kemajuan kesehatan serta ekonomi, angka harapan hidup bertambah panjang membuat jumlah penduduk usia tua membengkak atau terjadi ledakan jumlah (Aging Population). Saat ini dunia, termasuk Indonesia, sedang memasuki era di mana persentase penduduk lansia meningkat pesat. Data Badan Pusat Statistik Indonesia menunjukkan proporsi penduduk lanjut usia terus naik hingga melewati 11 % dari total populasi. 

Tantangan nyata lansia masa kini adalah banyak lansia tidak punya tabungan pensiun bagi lansia pekerja swasta, sehingga masih harus bekerja keras atau bergantung pada keluarga.  Pergeseran dari struktur keluarga besar (extended family) ke arah keluarga inti (nuclear family) memicu risiko lansia kesepian atau kurangnya pendampingan (caregiver). Keluarga inti hanya terdiri dari suami, istri, dan anak atau Lansia tidak lagi tinggal satu atap dengan anak dan cucu mereka. Rumah menjadi sepi saat anak bekerja dan cucu bersekolah. Anggota keluarga inti usia produktif umumnya sibuk bekerja di luar rumah. Anak dari lansia tersebut harus membagi fokus antara merawat orangtua dan membiayai anak kandung. Tidak ada anggota keluarga lain (seperti paman, bibi, atau sepupu) di rumah yang bisa bergantian menjaga lansia. Lansia masa kini menghadapi peningkatan penyakit degeneratif (seperti stroke, diabetes, dan demensia) yang membutuhkan biaya medis besar. 

Sebagian lansia ingin hidup mandiri, namun terbentur minimnya dukungan infrastruktur lingkungan yang aman. Oleh karena itu, kepedulian pada lansia masa kini tidak hanya pemerintah saja dengan memperbanyak fasilitas pelayanan lansia (Klinik Lansia, Panti lansia, Taman lansia), melainkan organisasi keagamaan seperti persyarikatan Muhammadiyah mendirikan Sekolah Lansia di beberapa daerah, Persaudaraan Muslimah (Salimah) juga memiliki Sekolah Lansia; layaknya sekolah-sekolah pada umumnya, sekolah lansia juga memiliki kurikulum, ruang belajar, dan lain-lain. Dengan ikut kegiatan di sekolah tersebut para lansia bersosialisasi dengan sesama lansia sehingga mengurangi rasa kesepian. 

Saat ini pihak swasta juga menyediakan rumah hunian lansia atau panti wreda, efektif mengurangi kesepian karena menyediakan komunitas sebaya, jadwal kegiatan harian yang terstruktur, serta pendampingan sosial. Di tempat ini, lansia bisa berinteraksi setiap hari, berbagi hobi, dan mendapatkan perhatian emosional yang sering kali sulit diperoleh jika mereka tinggal sendiri di rumah, namun jumlahnya masih terbatas di kota-kota besar dan berbayar mahal . 

Disamping itu, sepengetahuan kita ada dua yayasan yang terdaftar di Dinas Sosial Bojonegoro yang bergerak mendampingi kesehatan lansia tidak berbayar layanan homecare, yaitu LKS-LU Sejubah dan LKS-LU Akas Amanah Maboro. Pendampingan yang dilakukan LKS-LU sesuai dengan Visi: Mengantarkan para lansia hidup sehat dan bermartabat menuju khusnul khotimah. Dan Misi: Mendampingi kesehatan lansia; Mendampingi pendapatan pasif (passive income) lansia dan Mendampingi ibadah lansia. 

3.     Lansia Masa Depan: Tantangan  Kemandirian

Lansia pada masa depan menghadapi tantangan besar seiring meningkatnya usia harapan hidup dan jumlah populasi lanjut usia; Indonesia diproyeksikan memiliki sekitar 65,82 juta jiwa lansia pada tahun 2045. Kemandirian lansia di masa depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), robot pendamping, dan smart home, akan membantu lansia hidup mandiri tanpa membebani anak cucu. 

Perkembangan teknologi digital membantu lansia hidup lebih mandiri melalui akses kesehatan jarak jauh, alat pemantau kebugaran, dan aplikasi komunikasi. Inovasi ini mengurangi ketergantungan pada orang lain, menjaga kesehatan mental, dan menghubungkan mereka dengan keluarga. Di masa depan (seperti proyeksi tahun 2045), lansia didominasi oleh generasi yang lebih melek teknologi, berpendidikan lebih baik, dan menuntut kemandirian finansial serta kesehatan optimal. 

Teknologi digital tidak bisa menunggu; populasi lansia semakin tinggi dan kebutuhan akan layanan kesehatan yang cepat, murah dan mudah diakses semakin mendesak. Saat inilah kesehatan digital menjadi solusi bagi lansia untuk tetap sehat, mandiri, dan produktif. Lansia berhak atas teknologi yang inklusif, ramah, dan mendukung kualitas hidup mereka. Dengan pendekatan yang tepat, kesehatan digital bisa menjadi sahabat bagi lansia.  Sesuai Visi WHO dalam Decade of Healthy Ageing 2021-2030, keberpihakan pada lansia adalah investasi masa depan bagi semua generasi. 

Teknologi smart home (rumah pintar) membantu lansia hidup mandiri dan aman di rumah dengan mengandalkan otomatisasi, sensor gerak, kontrol suara, serta pemantauan jarak jauh untuk mencegah kecelakaan dan mempermudah aktivitas harian. Konsultasi dokter secara online tanpa harus pergi ke rumah sakit, jam tangan pintar untuk cek detak jantung dan tekanan darah, alarm otomatis di ponsel untuk jadwal minum obat harian. 

Lansia masa depan menuntut sistem dana pensiun dan jaminan sosial yang kuat agar lansia tidak jatuh ke jurang kemiskinan. Atur dana pensiun dan investasi dari muda agar mandiri secara finansial. Bagi LKS LU mempersiapkan diri terutama sumber dana yang dibuat operasional pendampingan, misalnya dengan Wakaf Tunai.  

Mengubah stigma lansia dari "beban" menjadi "potensi" melalui lapangan kerja ramah lansia dan kegiatan sosial; menyalurkan keterampilan, pengalaman, atau membuka wirausaha skala mikro yang disesuaikan dengan kapasitas fisik lansia. 

Pemanfaatan telemedicine, alat bantu robotik kesehatan, dan komunitas digital khusus lansia agar tetap produktif dan terhubung secara global. Kebutuhan mendesak pada sistem jaminan sosial, arsitek kota ramah lansia (age-friendly cities), dan integrasi ekonomi perak (silver economy). 

Moch. Suberi, Dosen Tidak Tetap STIEKIA & Pembina Yayasan Pendampingan Lansia Bojonegoro 

Referensi

Hendriani, W., dkk. (2022). Dinamika Perkembangan Usia Lanjut: Menjadi Lansia yang Sehat dan Bahagia. Jakarta: CV. Bintang Semesta Media.
Hendra, M., Istirokhah, I., Wulandari, S., Maghfiroh, U., Linatussa'adah, L., Muharom, M. S. H., & Haq, F. F. (2025). Masa Tua yang Bermakna: Pendekatan Holistik Bagi Lansia. Malang: PT Penerbit Qriset Indonesia.
Cicih, M.Si., Dr. Ir. Lilis Heri Mis (2023). Waspada Loneliness pada Lansia. https://youtu.be/2wwmy8vV6Iw?si=3Lj8xG4tpJcZXkn1

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

ID EN

STIEKIA Assistant

Siap membantu Anda