Membaca Arah Pendidikan Bojonegoro dari Perspektif Perilaku Berbasis Nilai Islam
← Kembali ke Artikel Ilmiah
Pendidikan 31 Agustus 2026 · Suprapto Estede

Membaca Arah Pendidikan Bojonegoro dari Perspektif Perilaku Berbasis Nilai Islam

← Kembali ke Artikel Ilmiah

Membaca Arah Pendidikan Bojonegoro dari Perspektif Perilaku Berbasis Nilai Islam

Pendidikan 31 Agustus 2026 · Ditulis oleh Suprapto Estede
Membaca Arah Pendidikan Bojonegoro dari Perspektif Perilaku Berbasis Nilai Islam

Informasi Penulis

Penulis
Suprapto Estede
Tanggal Publikasi
31 Agustus 2026
Kategori
Pendidikan

Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang melahirkan manusia yang mampu menjaga amanah, mengendalikan diri, menghormati nilai-nilai kemanusiaan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

PENDIDIKAN selalu menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban. Karena itu, setiap kebijakan pendidikan sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang anggaran, gedung sekolah, kurikulum, atau angka partisipasi belajar, melainkan tentang manusia seperti apa yang ingin dibentuk. Dalam perspektif ini, tulisan Arah Pendidikan Bojonegoro 2026 yang dimuat Damarinfo layak diapresiasi karena menggambarkan komitmen Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program strategis, mulai dari Dana Abadi Pendidikan, beasiswa, peningkatan kompetensi guru, hingga pemerataan akses pendidikan. Namun demikian, apakah arah pembangunan pendidikan telah benar-benar diarahkan untuk membentuk perilaku manusia yang berlandaskan nilai?
Selama ini keberhasilan pendidikan lebih banyak diukur melalui indikator kuantitatif, seperti angka partisipasi sekolah, tingkat kelulusan, akreditasi, prestasi akademik, maupun daya saing lulusan. Seluruh indikator tersebut memang penting. Akan tetapi, ukuran-ukuran itu belum sepenuhnya menjawab apakah pendidikan telah berhasil melahirkan manusia yang jujur, bertanggung jawab, berintegritas, berempati, serta mampu menggunakan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan bersama.
Dalam perspektif perilaku berbasis nilai Islam, tujuan pendidikan jauh melampaui proses transfer pengetahuan. Pendidikan merupakan ikhtiar membentuk manusia yang memiliki kesatuan antara ilmu, iman, dan amal. Pengetahuan memperoleh maknanya ketika diwujudkan dalam perilaku yang mencerminkan nilai-nilai moral dan spiritual.
Pandangan tersebut sejalan dengan teori perilaku modern yang dikemukakan Ajzen (1991). Menurutnya, perilaku seseorang didahului oleh niat, sedangkan niat dipengaruhi oleh sikap terhadap perilaku, norma sosial, dan persepsi mengenai kemampuan untuk melaksanakannya (Ajzen, 1991). Dalam perspektif Islam, kerangka tersebut dapat diperkaya dengan dimensi keimanan, keikhlasan niat, ketakwaan, tanggung jawab moral, serta kesadaran bahwa setiap tindakan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Dengan demikian, keputusan seseorang tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan untung-rugi, melainkan juga pada nilai kebenaran dan kemaslahatan.
Al-Qur'an memberikan landasan yang sangat kuat mengenai pentingnya perubahan perilaku sebagai inti pembangunan masyarakat.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak bermula dari pembangunan fisik, melainkan dari perubahan cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak manusia. Oleh sebab itu, pendidikan menjadi instrumen utama dalam membangun peradaban.
Apabila arah pendidikan Bojonegoro ingin menghasilkan dampak jangka panjang, maka investasi pada sektor pendidikan hendaknya dipahami sebagai investasi dalam pembentukan karakter. Program beasiswa, peningkatan kualitas guru, pembangunan sekolah, maupun penyediaan Dana Abadi Pendidikan akan memberikan manfaat yang lebih luas apabila seluruh kebijakan tersebut secara konsisten diarahkan untuk menumbuhkan kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian sosial, etos belajar, serta integritas peserta didik.
Tantangan pendidikan masa kini juga semakin kompleks. Era digital menghadirkan berbagai persoalan baru, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber, budaya instan, rendahnya literasi digital, hingga menurunnya etika dalam ruang publik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak lagi memadai. Pendidikan memerlukan penguatan dimensi moral dan spiritual agar peserta didik mampu menggunakan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab.
Dalam kaitan ini, pembangunan karakter digital menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan pendidikan. Peserta didik perlu dibimbing agar memiliki kesadaran moral dalam menggunakan media digital, menghargai kebenaran informasi, menjaga etika komunikasi, menghormati martabat sesama, serta memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat. Karakter digital yang demikian akan memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkokoh kehidupan sosial yang harmonis.
Pemikiran tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan Islam sebagaimana dikemukakan Al-Attas (1991), bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia yang baik (the good man), yaitu manusia yang berilmu sekaligus beradab. Sebelumnya, Al-Ghazali telah menegaskan bahwa ilmu yang tidak melahirkan akhlak akan kehilangan nilai dan arah. Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kecerdasan intelektual saja, tetapi juga dari kualitas akhlak yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Arah Pendidikan Bojonegoro memberikan optimisme bahwa pembangunan sumber daya manusia memperoleh perhatian yang semakin besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa setiap kebijakan pendidikan benar-benar berorientasi pada pembentukan manusia yang utuh, yakni: cerdas pikirannya, matang kepribadiannya, luhur akhlaknya, serta bertanggung jawab dalam memanfaatkan ilmu dan teknologi.
Jadi, pendidikan yang berhasil bukan sekadar menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang melahirkan manusia yang mampu menjaga amanah, mengendalikan diri, menghormati nilai-nilai kemanusiaan, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Di situlah investasi pendidikan menemukan makna terdalamnya, yakni membangun peradaban melalui pembentukan perilaku yang berakar pada nilai-nilai luhur.
Suprapto Estede, dosen STIEKIA, penasehat ICMI Orda Bojonegoro.

Referensi

Ajzen, I. (1991) ‘The Theory of Planned Behavior’, Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), pp. 179–211.
Al-Attas, S.M.N. (1991) The Concept of Education in Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
Al-Ghazali (2013) Ihya' Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Damarinfo (2026) Arah Pendidikan Bojonegoro 2026. https://damarinfo.com/arah-pendidikan-bojonegoro-2026/

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

ID EN

STIEKIA Assistant

Siap membantu Anda